Mengembangkan Keterampilan Dengan Belajar

•November 28, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hardskill). Namun, kesuksesan juga ditentukan oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (softskill). Pendidikan softskill bertumpu pada pembinaan mentalitas agar seorang siswa dapat menyesuaikan dirii dengan realitas kehidupan. Hasil penelitian mengungkapkan, kesuksesan seorang individu hanya ditentukan sekitar 20% dengan hardskill dan sisanya 80% dengan softskill. Lee Kwan Yew pernah menyatakan bahwa salah satu resep kesuksesan Singapura dalam mencapai keterampilan adalah karena dari 4 juta penduduknya, hanya ada sekitar 2.000 orang dipuncak yang memiliki “proven track records-not just ability, but in character, determinations, commitment, can lead and promote Singapore” (Terbukti track record-bukan hanya kemampuan, tapi dalam karakter, determinasi, komitmen, dapat memimpin dan memajukan Singapura). Selain itu, Collin Powell mengatakan bahwa seorang individu harus selalu mampu mengembangkan tingkat keterampilan dalam bekajar membuat keputusan dengan situasi yang serba terbatas. Ia bahkan memberikan formula matematis: kalau anda merasa sudah mendapat antara 40-60% informasi yang diperlukan, ambilah keputusan itu, dan gunakan naluri anda serta jangan membiasakan menunda-nunda keputusan karena menunggu informasi lengkap hanya akan memperbesar risiko kegagalan di tangan.
Proses pendidikan merupakan perubahan pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif) seorang individu. Maka dari itu, apabila seorang individu mengenyam pendidikan, seharusnya dapat menghasilkan suatukemampuan yang dapat menyeimbangkan antara pengetahuan dan keterampilan teknis (hardskill) dan keterampilan mengelola diri dan orang lain (softskill). Dibandingkan seorang individu yang tidak mengenyam pendidikan, terkadang seorang individu yang tidak mengenyam pendidikan mengalami ketidakseimbangan yang cukup jauh antara hardskill dan softskill. Hal ini disebabkan oleh proses pembelajaran yang menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan maupun hasil ujian.
Oleh karena itu, seorang individu akan selalu berlomba-lomba dan bersaing dalam mencapai pengetahuan dan keterampilan teknis yang optimal. Sedangkan seharusnya seorang individu selain mengoptimalkan pengetahuan dan keterampialan secara teknis, individu tersebut harus bisa terampil dalam mengelola diri dan orang lain. Hal ini disebabkan setelah seorang individu mampu dalam pengetahuan dan keterampilan secara teknis juga harus bisa mengaplikasikan hal tersebut pada diri sendiri dan orang lain yang dituangkan baik berupa tulisan, perkataan, dan perbuatan.
Dalam meraih kesuksesan dalam belajar terampil, kita harus bisa memperhatikan perkembangan IPTEK yang semakin hari semakin canggih. Dari sekian banyak hasil IPTEK diantaranya adalah televisi. Hampir setiap rumah memiliki televisi yang mana audiens sebagai pengonsumennya akan menambah pengetahuan dan wawasan mengenai informasi terkini. Tetapi jangan salah, menonton televisi merupakan pekerjaan tanpa akhir, tanpa tujuan, dan tidak membuat kenyang. Dengan menonton televisi terlalu bebas, seorang idividu dalam hal ini adalah anak, akan mengalami kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan dan kegiatan yang sifatnya melakukan gerakan motorik (fisik) kasar maupun halus. Kebanyakan mereka menemui kesulitan dalam berhubungan dengan orang dewasa dan kelompok seusianya. Bukanya membuat suatu kreasi sendiri, ia justru meniru saja apa yang dilihatnya di televise dengan gerakan yang tidak kreatif, kaku dan diulang-ulang. Berbeda dengan membaca buku bejalan-jalan di alam, atau becakap –cakap dengan orang lain. Dengan hal tersebut seorang anak akan mempunyai kesempatan untuk merenung dan berfikir yang tentunya jauh lebih mendidik.
Dari sekian banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi seorang individu untuk lebih terampil dalam belajar adalah selain dari perkembangan IPTEK yang semakin maju dan canggih, juga perhatian orang tua pun sangatlah berperan penting didalamnya. Hal ini disebabkan peranan orang tua dalam lingkungan keluarga yang penting adalah memberikan pengalaman pertama pada masa anak-anak. Itu karena pengalaman pertama merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi dan menjamin kehidupan emosional anak. Oleh karena itu, prestasi belajar siswa yang mendapat perhatian dari orang tua lebih baik dibandingkan dengan prestasi siswa yang kurang mendapat perhatian dari orang tua. Begitulah simpulan penelitian Tata Elistiana Dyah Armunanto, siswi SLTP Negeri 2 Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tata adalah salah satu finalis Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) 2004. Penelitiannya dilakukan di sekolah tempat ia menimba ilmu. Hingga bisa diketahui perhatian orang tua terhadap peningkatan prestasi belajar siswa di sekolah tersebut. Dan disimpulkan bahwa dari setiap siswa hanya menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan atau ujian yang tinggi adalah kompetisi yang baik. Padahal selain nilai atau hasil yang tinggi, siswa juga harus bisa mengaplikannya bagaimana ia bisa menjalankan bentuk dari hasil yang tinggi tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan Kaki
1. Djalal Patti Dino, Harus Bisa! (Jakarta: Red & White Publishing, 2009), p. 49.
2. Hasan Alwi, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), p. 271-280.
3. Wirajaya Yudha Asep dan Sudarmawati, Berbahasa Dan Bersastra Indonesia Tingkat SMP/MTs Kelas VIII (Surakarta: CV Putra Nugraha, 2009), p. 132.

Hello world!

•November 28, 2009 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!